Letter O

Let’s cherish every line which is drawn in between

5th Oktober 2009

Let’s walk

Demi…Tuhan dan segala rahasiaNya

Demi…hidup yang lebih baik

Demi…pengembangan diri yang tak putus-putus

Demi…sejarah agar tetap pada tempatnya

Demi…waktu yang terus bergulir

Demi…persahabatan yang aku harap dapat tetap langgeng

Demi…tiadanya kesia-siaan dalam hidup

Demi…kian

Bersama Alhamdulillah, saya tutup rumahku ini, memulai hidup baru di kontrakan baru.

Enjoy your day, enjoy the thrill!!!

posted in Tak Berkategori | 4 Comments

4th Oktober 2009

Blue

Are you an angel or a devil?

Where can I find the answer?

Let me hide till I find it out,,,

posted in you | 2 Comments

30th September 2009

Impian-Impian Terpendamku

1.Pengen tinggal dimana saja, asal bukan di Jakarta. Tinggal bukan berarti punya rumah ditempat tersebut lho.

2. Pengen punya rumah di Bandung, tepatnya di daerah Ciumbeuleuit naik ke ataaaass terus, nyampe punclut juga ga pa pa, atau di dago pakar ke atassss terus, pokoknya di gunung lah. Asal jangan gunung Manglayang, bikin bivak itu kalo disana. Trus rumahnya dibangun di tebing, jadi dinding belakang rumah terbuat dari kaca semua, menghadap ke jurang. Aku ingin menghabiskan masa tuaku di gunung, di Bandung.

3. Pengen punya anak tunggal cowok. Tapi karena sekarang dah dua-duanya cewek, ya sudah ga usah nambah lagi lah.

4. Pengen punya usaha di bidang kuliner. Kan katanya usaha harus sesuai hobi, nah hobiku itu makan makanan enak. Tah, cocok kan?

5. Pengen masukin anakku ke boarding school, biar dia tahu rasa nyuci dan nyetrika baju sendiri, ditambah tugas-tugas asrama lain.

6. Pengen keliling dunia. Ah, ini mah mimpi yang pasaran banget ya…

7. Pengen ke Mars.

8. Pengen bisa karate sekaligus menari balet. Dulu, sewaktu aku kecil aku pernah nonton film Karate Kid, dan aku jadi memendam keinginan bisa karate. Trus dulu juga, di majalah Bobo langgananku ketika SD, ada profil seorang penari balet kecil. Sejak itulah aku mulai memendam keinginan menjadi penari. Tapi karena aku tinggal di kota kecil, jadi ibuku tak dapat memfasilitasiku untuk mewujudkan keinginanku itu.

9. Pengen naik gunung Himalaya. Tapi track record-ku sebagai pendaki gunung, baru gunung tertinggi se-Jawa Barat (Gunung Ciremai) yang berhasil aku daki. Cemen kali pun aku ni.

10. Pengen nikah sama Nabi Muhammad. Pengen tau aja, kalo aku nikah sama beliau apa hidupku jadi tenang dan ga rusuh ya.

11. Pengen bila aku mati, arwahku jadi arwah gentayangan. Seneng aja melihat ekspresi orang yang takut hantu.

12. Pengen jadi pembunuh bayaran ala Hollywood. Aku sangat suka dengan ekspresi mereka ketika membidik target yang hendak dibunuhnya. Dingin, logis, dan teguh pendirian. Karena menurutku, sebenarnya hidup memang harus dijalani dengan cara demikian.

13. Na….. di angka sial ini aku pengen……bersamamu…hahahaha..:D

posted in just in my mind | 5 Comments

29th September 2009

Roman Picisan

Aku ingin berlari ke rumahmu, sore itu. Sore yang gerah. Plus penat akibat mata kuliah yang membuat kepalaku mengebulkan asap. Sampai di pertigaan aku ragu. Apa yang akan ada di kepalamu bila aku datang tanpa alasan? Sekedar ingin bersamamu saja. Mendengarkan bualanmu tentang Tchakovsky, atau Symphonie no.9, atau Girl From Ipanema-nya siapa itu, aku sudah lupa. Aku tak dapat menjangkaumu, itu yang pertama terbetik di otakku. Kamu, memang selalu angkuh dimataku. Seharusnya aku mempertahankan ketidaksukaanku akan keangkuhanmu.

Kemudian, sekejap keberanianku terkumpul. Kuketuk pintu rumahmu. Teman mainku yang bukakan pintu. Dia bertanya,”Cari siapa?” Aku tahu, dalam hati dia ingin bertanya, “Ngapain kesini, kan tugas praktikum sudah selesai tadi di basement perpustakaan?” Dengan berat kusebut namamu, berharap dia tidak curiga yang direlung hati. Detik demi detik berlalu. Hingga akhirnya aku melihatmu menuruni tangga rumahmu, menuju pintu, menemuiku. Terkena panic attack, aku hanya sanggup berucap,”Apa kabar?”

Detik berikutnya tak ada lagi dalam memoriku. Yang kuingat, lima menit kemudian aku sudah berada di Simpang Dago, berjalan lambat menuju Tubagus Ismail, pulang ke kost-ku. Aku lelah menyikapimu. Antara takut, sebal dengan gaya kebuku-bukuanmu, tidak mengerti tentang apresiasi musikmu, kagum, dan keinginan menjadi bagian dari kisahmu. Dan sekarang….aku sangat ingin memblokir namamu, sungguh. Karena aku tak mau terus menerus begini. Kamu bisa membagi hati, sedangkan aku?

Aku tahu nomor telponmu, aku menyimpannya dari dulu. Aku ingin mengirimimu berlembar-lembar SMS, tentang catatan harianku kala itu. Tapi…itu tidak akan membuat keadaanku menjadi lebih baik. Kalau aku harus memilih antara menemuimu atau meremove-mu dari friend list-ku, aku akan memilih meremove-mu. Karena pertemuan hanya akan membuatku makin terpuruk. Aku tak berani.

Time machine…time machine. Aku tak butuh kembali ke masa lalu, aku hanya ingin tahu akhir kisahku.

*Wakakaka…kambuh lagi bikin yang beginian…ga pa pa lah, investasi imajinasi…;)*

posted in hati-hati dengan hati | 0 Comments

26th September 2009

That’s Why…That’s Why….

Jatuh cinta itu biasa. Berkomitmen terhadap cinta itu luar biasa. Mungkin bukan perkara cinta yang membawaku pada pernikahanku. Karena ketika itu aku sudah tidak percaya cinta itu ada. Kebutuhan psikologisku yang lebih banyak mendorongku berkomitmen dengan suamiku.

Aku adalah jenis makhluk Tuhan yang sangat labil. Aku punya range perasaan yang sangat lebar. Detik pertama aku tertawa terbahak-bahak, sedangkan detik berikutnya aku bisa menangis meraung-raung. Selain itu aku juga tergolong setan yang paling kejam, perusuh yang tak kenal ampun, dan penjahat moral yang paling parah. Tidak ada seorang lelakipun yang betah menyayangiku. Karena tanpa kusadari, aku telah melukai mereka. Apa aku harus menyesal karena kondisiku ini? Tanya saja pada Tuhan tentang itu.

Dan pada suatu masa, hadirlah laki-laki yang kini menjadi suamiku. Dia tidak mengerti siapa sebenarnya aku. Yang dia lihat hanyalah seorang mahasiswa setingkat dibawahnya, yang agak malas kuliah sehingga pelajarannya keteteran. Sederhana dan tidak rumit. Tapi justru cara pandangnya yang gampang itu yang membuat dia adalah satu-satunya pria yang betah berjalan denganku.

Suamiku tidak pernah mengerti betapa banyak kejahatan-kejahatan yang telah aku lakukan, karena dalam pandangan dia, kejahatan berarti melanggar aturan, sedangkan aku secara lahiriah memang tidak pernah melanggar aturan. Hanya norma saja yang sering aku permainkan. Pelanggaran-pelanggaran yang aku lakukan tidak bisa masuk ke dalam logika tekniknya, sehingga dia berpikir aku ini sesuci malaikat.

Suamiku tidak pernah terluka oleh kelakukanku. Aku juga heran sebenarnya, kok bisa ya, sementara diluar sana teman-temanku banyak yang mengeluhkan sikapku. Kadang aku merasa suamiku adalah semacam robot yang hati dan rasanya telah terkontrol penuh oleh processor diotaknya. Itulah yang membuat hubungan kami langgeng. Ketika aku tidak bisa mengontrol diri dan pikiranku, aku seringkali bertindak menyakiti diri sendiri atau orang lain. Orang normal mungkin akan terganggu dengan ketidakmampuanku mengontrol diri atau pikiran-pikiran jahatku. Tapi suamiku selalu berkata,”kejahatan adalah perbuatan, bukan pikiran”. Bahkan kata-kata yang paling pedas yang sering aku lontarkan tanpa kendali pun tidak pernah melukainya. Karena bagi dia kata-kata buruk adalah kata-kata yang berisi sumpah serapah, kebun binatang, dan kata-kata jorok yang dilarang oleh agama. Sinisme, dalam kamus dia, tidak termasuk kata-kata buruk.

Kadang aku merasa terganggu karena merasa keinginanku tak terpahami oleh dia. Tapi justru ketidakpahamannya itulah yang banyak menyelamatkanku dari menyakiti diri sendiri dan orang lain. Aku juga banyak terbebas dari prasangka karena dia tidak pernah memperhitungkan hal-hal yang bersifat implisit.

Bisa jadi, apa yang kami harapkan dalam sebuah pernikahan adalah berbeda, walau aku yakin irisannya tetap ada. Bagiku, selama suamiku tidak menyimpang dari hak dan kewajibannya (menurut definisiku), aku akan selalu bisa terima. Karena sesungguhnya, keinginan manusia itu terlalu banyak untuk bisa dipenuhi oleh pasangannya. Selama kami masih bisa tertawa bersama, berarti kami masih baik-baik saja.

Diluar itu semua, memang hanya dia yang bisa bertahan bersamaku ketika itu dan hingga kini. That’s why..that’s why…aku tetap disini, bergandengan tangan bersamanya, walau ada cedera didada, akibat masa lalu yang seharusnya kulupa…yang seharusnya kulupa…(sekali lagi ah) yang seharusnya kulupa.

He..he…he…jadi pengen ketawa mengingat gedebag gedebug-ku selama ini. Walaupun aku hobi tertawa, tapi kadang hidup itu terlalu lucu sehingga aku lupa tertawa.

Sudah, mulai sekarang aku mau menatap kedepan, berusaha tak menoleh ke belakang. Berusaha tidak bersentimentil dan berpuitis ria, karena aku bisa disangka sedang tebar pesona, atau sedang melakukan kenakalan-kenakalan tak beradab lainnya. Aku tidak mau bercengeng-cengeng lagi dengan cinta, aku juga tak mau lagi mengeluh tentang kehampaan hidup. Yang ingin kulakukan adalah, menjadi karyawan yang baik selama 1 sampai 2 tahun ini (ijin sudah setengah hati dikasih..,lumayan daripada tidak sama sekali), sembari membangun networking untuk mendukung sebuah kerajaan usaha yang aku impikan. Mari kita bangun jiwa enterpreneurship dalam diri kita, demi meningkatkan ekonomi bangsa.

posted in hati-hati dengan hati | 0 Comments

23rd September 2009

Kisah Seekor Lebah

Di sebuah hutan yang rindang, hiduplah seekor lebah pekerja kecil bersama koloninya. Lebah kecil yang istimewa. Lebih kecil yang berusaha mencari sesuatu yang berbeda dari rutinitas yang dilakukan teman-temannya. Lebah kecil itu sedang jenuh dengan kegiatan kesehariannya, yaitu mencari madu dan merawat larva.

Suatu hari yang cerah, lebah tersebut terbang diluar wilayah kerjanya. Bunga-bunga di padang rumput yang biasa dia hisap madunya, tidak lagi menggairahkannya. Dia terbang menjauhi teman-temannya yang sedang giat bekerja. Hingga dia tiba di sebuah tebing yang tinggi dan curam. Rasa penasaran menggeliat dalam dirinya. Dia ingin tahu, ada apakah di balik tebing itu. Dia tahu, tak mudah untuk menyeberangi tebing curam tersebut. Badannya yang kecil sangat berpotensi terhempas oleh kencangnya angin di ketinggian tebing. But, passion is passion. Tak terbendung lagi, lebah itu nekad meyeberangi tebing tinggi.

Seperti yang sudah diprediksinya, angin gunung yang kejam membawanya pada sakaratul maut. Untungnya, Dewa Kehidupan belum berkenan menerima kehadirannya di istana akhiratnya. Lebah itu berhasil bertahan hidup. Bersama pelangi yang menemani, lebah itu membuka matanya kembali. Dia telah tiba dibalik tebing. Dan begitu menyaksikan apa yang ditemukanya di balik tebing itu, lebah itu rasanya ingin menutup mata kembali. Ternyata, SEMUA SAMA SAJA.

Hutan kecil yang rindang, dan padang rumput yang penuh bunga-bunga berwarna-warni, sama persis seperti yang dimilikinya dahulu. Kemudian dia berpikir, pada akhirnya, kemanapun kita pergi, yang kita temui hanyalah diri sendiri. Diri yang selalu mencari sesuatu yang baru untuk kemudian menjadi bosan lagi. Tapi kita tak dapat kembali, karena kita telah terlanjur tahu. Seandainya lebah kecil itu tak pernah tahu ada tebing yang menantang di sebelah sarangnya yang nyaman, maka dia tak akan pernah sampai di balik tebing tersebut. Keterlanjuran akan pengetahuan (yang mungkin sebenarnya juga tak dia harapkan) telah membawa lebah petualang berada di tempat sekarang.

Diujung cerita, lebah tersebut menjalani hidup yang sama sekali tidak berbeda dengan hidupnya sebelumnya. Mencari madu dan menjaga larva. Tapi setidaknya, lebah petualang bisa sedikit merasa lega. Rasa penasarannya telah tertuntaskan. Hingga suatu saat dia akan tiba pada rasa penasaran berikutnya, yang kembali menuntut untuk dituntaskannya.

Aku merasa ada ironi pada kehidupan seekor lebah. Lebah, binatang berkoloni yang membagi sesamanya berdasarkan garis nasibnya, tanpa bisa mengusahakannya. Ada yang tercipta menjadi ratu, yang kerjanya hanya kawin dan bertelur. Ada yang bertugas sebagai pekerja, mencari madu, membuat sarang, dan menjadi pejuang bila musuh datang. Bagaimana bila ada lebah yang tidak puas dengan takdir penciptaannya. “Emang gue pikirin”, mungkin begitu kata Sang Pemilik Alam. Puas dan tidak puas itu bukan akibat dari sesuatu, tapi situasi yang bisa diciptakan. Dan Tuhanpun memilih berlepas tangan. God must be crazy when leaves us alone, but God is crazy, indeed.

Apa artinya kehidupan bagi seekor lebah kecil di jagad yang tak berbatas ini. Bila kematian harus selalu dibayar dengan cukup satu saja serangan kepada pihak lawan. Sekali menyengat setelah itu mati. Bertahan hidup rasanya tak ada artinya lagi. Menyengat untuk melawan, tapi toh akan mati juga karena nyawa lebah ada di pantatnya, di dalam sengatnya. Is it me on that little bee? Merasa ada yang tidak adil? Ah sudahlah, buat apa menggugat lagi, kalau akhirnya sama saja: mati.

Dari sarangnya kita bisa memperoleh madu, yang konon kabarnya, berkhasiat menyembuhkan segala macam penyakit manusia. Sosok pahlawan yang tragis. Hidup hanya demi kepentingan manusia, yang dikenalnya pun mungkin tidak. Dielu-elukan untuk kemudian tak terselamatkan. Kalau hidup memang hanya mengejar nilai manfaat, bahkan setanpun diciptakan untuk sebuah manfaat. Then, what’s life for?

Dari hati ke hati, dari kondisi ke kondisi aku jelajahi. Yang aku temui hanya diri ini. Tanpa ada orang yang sanggup mengerti. Berkutat dengan hal yang tak jauh berbeda. Mencoba saling memahami, tapi seringkali terdampar pada rasa benci. Tapi aku tidak menyesali penjelajahan ini. Karena kini, hidup takkan sama lagi, walau itu hanya terasa di hati.

I try to keep dreaming (of you) even it’s getting uglier and hurt. Tapi, Tuhan saja tidak bertanggung jawab terhadap apa yang dipikirkan dan dirasakan makhlukNya, apalagi kita.

Selamat Hari Raya idul Fitri, Minal Aidzin wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin

posted in just in my mind | 1 Comment

15th September 2009

Di Ujung Ramadhan

Menahan gejolak yang kian melonjak. Masa depan yang buram dan masa lalu yang suram. Kemarau yang panjang. Betapa aku merindukan hujan. Karena hujan selalu dapat menyembunyikan tangisku. Disini tak ada apa-apa. Disana juga kosong. Kusut sekali skenarioMu. Aku tak mengerti.

Teman baikku bertanya, kenapa aku pandai sekali tertawa. Ah, dia tak pernah tahu, aku pandai tertawa sepandai aku berurai airmata, pada ruang terkunci di sudut hati. Pathetic act for worthless curse. Biarin aja.

Just enjoy the thrill of uncertainty, I still remember those words. Tidak karena suatu apa, hanya ingin memungut setiap hikmah yang tersisa, seandainya itu memang ada.

Lantas??? Aku tak ingin meratap. Sekedar menghabiskan sisa waktu di malam kelam tanpa bintang. Sudah kukatakan berulang kali pada diri ini, “Sudahlah…!”

Kembali aku menengadah, mencoba menatapMu di puncak kuasaMu. Kau tak ada disana. Dimana…dimana…Kau bersembunyi. Sesungguhnya aku juga ingin bersembunyi. Tapi aku tak bisa, aku tak kuasa.

Kenapa kau buat aku jatuh, padahal kau tahu kau tak kan mampu tuk menangkapku? Tak lebih berharga dari dendam di masa lalu. Dari rasa penasaran yang mungkin terus mengejarmu. Bukan keputusan yang bijak, kataku. Ah, aku tak hendak bicara cinta, aku hanya ingin mabuk saja.

The moon take another spell on me. Dan aku membeku. Waktu berlalu, tanpa kutahu. Menggilas keyakinanku. Berharap segera berubah menjadi kupu-kupu. Agar bisa menghinggapi bunga di taman. Bercanda dengan serpihan serbuk sari, menyampaikannya pada putik yang setia menunggu. Dengan sebersit asa, aku bisa menjadi malaikat setelahnya.

Too much love will never kill me. Karena aku  masih ingin tegak berdiri. Menantang badai. Life is just a stupid game. If it’s too easy, then we’ll get bored. Demi kebodohan-kebodohan berikutnya, aku akan tetap ada disini.

posted in you | 1 Comment

13th September 2009

Kapitalisme???

Beberapa hari yang lalu, keluarga besar suamiku mengadakan acara buka bersama di sebuah restoran di BSD. Pukul 5 sore kami sudah tiba di lokasi, padahal bedug maghrib pukul 17.50 an. Sekedar antisipasi, agar tidak terlantar karena tidak mendapat tempat. Restoran ini cukup besar, dengan karyawan yang banyak pula.

 

Setelah acara pesan memesan makanan selesai, tak berapa lama adzan berkumandang. Ta’jil telah disajikan diatas meja para tamu sebelum waktu adzan tiba. Makanan utama baru diturunkan setelah terdengar adzan. Yang membuat saya heran, begitu tiba saat adzan, para pelayannya malah sibuk sekali melayani pesanan para tamu. Kapan mereka berbukanya ya? Dengan asumsi mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim, aku yakin sebagian besar pelayan restoran tersebut berpuasa. Tapi sepertinya mereka hanya sempat meneguk air putih saja untuk membatalkan puasanya.

 

Pengunjung restoran sedang mencapai puncaknya pada jam-jam berbuka. Ada yang menambah pesanan, ada yang mau bayar, dan ada juga yang baru datang. Para pelayan masih terus berlalu lalang hingga jam menunjukkan pukul 7 malam. Sepanjang pengamatanku -mudah-mudahan tidak terlewat- belum terlihat para pelayan itu menyantap makanan padat hingga adzan Isya diserukan.

 

Mungkin memang begitulah nasib buruh. Harus tunduk pada aturan pemilik modal, apapun taruhannya. Apalah artinya menunda lapar sejam atau dua jam lebih lama asalkan anak istri di rumah tidak menunda lapar sampai seminggu lamanya. Aku tak tahu bagaimana aturan ekonomi itu seharusnya diciptakan. Karena aku belum sempat berkenalan dengan Abah Kapitalisme dan Om Sosialisme. Hanya saja, sepertinya aku melihat ada pihak yang terdzolimi dalam hubungan kerja buruh-majikan.

 

Kabarnya, harga jual sebuah barang tergantung pada harga bahan dasar dan harga tenaga kerja. Harga bahan dasar masih memiliki batas minimum yang pasti untuk ditekan, sedangkan harga tenaga kerja memiliki batas minimum yang fleksibel dan bahkan bisa ditekan dengan sangat ekstrim, dibawah nilai KFM (Kebutuhan Fisik Minimum) yang ditetapkan oleh pemerintah. Harga tenaga kerja sangat tergantung pada kekompakan para pencari kerja.

 

Pemilik modal lebih suka menekan harga tenaga kerja seminimum mungkin demi keuntungan semaksimal mungkin. Kemarin ketika ada tawaran pekerjaan kepadaku yang gajinya tidak sesuai tanggungjawabnya, suamiku memintaku menolaknya. Bukan masalah uangnya, tapi masalah keadilan. Karena pengalaman kami sewaktu baru lulus dan menjadi job seeker, kami sangat benci kepada Geologist/Geophysicist yang banting harga. Merusak harga pasar, kami menyebutnya. Tapi bagaimana bila pekerjaan itu hanya dijadikan batu loncatan? Karena logikanya, orang pasti tidak mau digaji kecil dengan tanggungjawab besar. Dan perusahaan yang menggaji dibawah standard pun pasti sudah maklum bahwa resiko kehilangan karyawan sangat besar dengan tetap pada pendirian. Kalau begitu, sebenarnya sah-sah saja dong menerima pekerjaan dengan gaji dibawah kelaziman?

 

Tah, lieur lagi urang. Mending bikin puisi asal-asalan, daripada kesal sama pemilik modal.

*maaf diedit, soalnya kemarin nulisnya pas kena kutukan PMS, jadi ga terkontrol*

posted in just in my mind | 0 Comments

7th September 2009

Malam

Malam selalu membawa kegelisahan. Ketika aktivitas telah usai ditelan matahari, maka malam menjadi sangat panjang dan menakutkan. Kegelapan yang menyertainya, seperti gulitanya hati menahan sepi. Malam selalu menyiksaku, tatkala mataku tak bisa berkompromi terhadap waktu.

Selalu terjaga di malam hari bukan hal yang menyenangkan. Kadang aku menyelesaikannya dengan obat tidur yang kubeli murah di apotek dekat rumahku. Dan menenggaknya beberapa butir sekaligus bilamana perlu. Mungkin ini salah satu bawaan ibuku. Dulu, sewaktu aku masih tinggal bersama ibuku, ibuku sering sekali terbangun di malam hari. Kemudian beliau akan membangunkan aku juga untuk mengobrol karena beliau tidak tahan sendiri. Begitulah semua kebiasaan itu dimulai.

Malam ini, aku teringat akan kisah hidup saudara jauhku. Beberapa bulan menjelang pernikahannya, datanglah seorang lelaki lain dalam hidupnya. Karena ingin membuktikan rasa setianya kepada pacarnya, dia tetap memilih menikah dengan pacarnya. Tuntutan hidup mengharuskan mereka tinggal berjauhan. Hingga suatu malam, suaminya menemukannya sedang berdua dengan lelaki yang dulu menginginkannya. Walau tak punya bukti, tapi secara naluri suaminya sadar istrinya telah berselingkuh. Singkat cerita, karena ingin menjaga keutuhan rumah tangganya, maka diajaknyalah istrinya pindah ke kota tempat dia bekerja. Istrinya setuju.

Tetapi, rupanya ganjalan peristiwa malam itu tak dapat hilang begitu saja. Komunikasi serasa berjarak. Akhirnya mereka bercerai dengan alasan tak cocok lagi. Ketika itu saudara jauhku sedang hamil tua. Suaminya tak peduli lagi dengannya. Saudaraku mengurus semua tetek bengek melahirkan dan merawat bayi sendiri saja. Dan dia bisa. Ketika anaknya lahir, suaminya tak menengoknya. Tapi ternyata firasat suaminya adalah benar adanya. Anak itu bukan anaknya. Anak itu anak lelaki selingkuhannya.

Mungkin, karena ingin mendapat pengakuan soal anaknya dari lelaki selingkuhannya, saudaraku menghubungi kembali lelaki itu. Gayung bersambut. Lelaki yang telah menghamilinya bersedia menikahinya. Sejauh ini aku tak keberatan dengan jalan yang dipilih saudaraku itu. Tapi, ternyata lelaki kedua itu telah memiliki istri pertama. Ketika mereka melakukan perselingkuhan itu, keduanya berstatus married. Masih tak masalah bagiku, itu urusan mereka dengan Tuhannya.

Yang sampai sekarang aku belum bisa aku mengerti adalah, kenapa saudaraku itu mau jadi istri kedua. Demi cinta? Ha..ha..ha..makanan macam apa itu cinta sampai segitunya mau dijadikan istri kedua. Harta bukan menjadi persoalan bagi saudaraku itu, karena penghasilannya lebih besar dari suami keduanya. Atau saudaraku takut mengasuh anaknya sendirian. Kenapa harus takut? Kalau memang dia takut, kenapa harus menikah dengan lelaki yang sama yang telah menghamilinya? Padahal dia bisa mencari lelaki lain yang tak beristri? Ah, aku tak mengerti…benar-benar tak mengerti.

Bagiku yang awam ilmu agama, poligami sama sekali tak masuk di logikaku. Rasanya, kalau mendengar ada perempuan di poligami, sisi keperempuananku tersinggung dan marah. Kami, perempuan, tidak lemah-lemah amat sebenarnya, asal jangan dicuci otak kami lantas dimasukkan ide bahwa kami adalah lemah dan butuh laki-laki sebagai pelindung. Kami bisa mengasuh dan membesarkan anak sendiri. Contoh konkritnya adalah ibuku. Beliau membiayai dan merawat anaknya sendiri setelah ayahku meninggal pada saat kakak tertuaku baru berusia 15 tahun, dan bungsunya berumur 7 tahun.

Bila alasannya adalah cinta…aduh…tolong ambilkan ember dong, pengen muntah nih!! (maaf). Cinta kok tuntutannya banyak begitu, nafsu saja kali itu. Jangan mengatasnamakan cinta lah. Kasihan para perempuan.

Kehidupan saudaraku setelah menjadi istri kedua juga tidak banyak perubahan seperti ketika dia masih menjadi single parent. Saudaraku memang sempat menjadi single parent selama 2 tahun sebelum akhirnya menikah. Dia tetap bekerja untuk mencukupi kebutuhan dia dan anaknya. Dia beli rumah dari tabungannya sendiri, bukan dari tabungan suaminya. Enak kali tu cowok, terima beres aja. Bukannya, aku ingin mengukur seseorang dari hartanya, cuma rasanya ga rela saja bila ada perempuan yang dimanfaatkan. Bingung bin linglung dengan pilihan hidup saudaraku.

Kupikir tidak adil, kalau laki-laki boleh beristri lebih dari satu sedangkan perempuan tidak. Lagipula denger-denger poligami sebenarnya tidak didukung oleh syariah lho… Jika hati masih mungkin berbelah dua, tiga, atau empat, tapi komitmen, janji, dan keadilan? Tidak ada manusia yang benar-benar adil di dunia ini. Ini namanya pembodohan perempuan. Padahal, kami perempuan, secara kemampuan juga ada yang bisa bersuami lebih dari satu. Aku juga mau, walau aku tak mampu (ga ada yang mau maksudnya…hehe).

Aku juga sebenarnya sangat kecewa ketika Aa Gym menikah lagi. Demi apapun itu, aku sama sekali tidak sepakat. Bagiku, poligami adalah bencana keluarga yang lebih buruk dari perceraian.

Ya sudah, sekian dulu marah-marahnya. Tidak usah dihiraukan celotehanku. Seperti kata Aa Gym: tak usah peduli apa kata orang, yang penting kita selalu berusaha memperbaiki diri. Untuk yang ini sepakat deh Aa….

*if you tolarate this, your children will be next…*

posted in cerita | 10 Comments

2nd September 2009

Hanya Perubahan Yang Tidak Berubah

Mungkin, untuk sampai pada titik dimana aku begitu nyaman menjadi diriku sendiri seperti sekarang ini memang harus melalui beberapa tahap yang sulit. Seperti anak kecil yang belajar berjalan pasti pernah mengalami jatuh. Tanpa jatuh itu dia tak akan pernah berani melangkahkan kakinya. Tanpa jatuh dia tidak akan cukup percaya diri untuk melepas pegangan tangannya ketika berjalan.

Ketika aku lulus kuliah, aku sangat tidak percaya diri dengan kemampuanku mendapatkan pekerjaan. Minder abisss deh… Dan memang kenyataannya beberapa oil company yang aku lamar menolakku pada tahap wawancara, yang biasanya dilakukan setelah tahap psikotes. Akhirnya, ketika ada lowongan di instansi pemerintah, aku ambil saja, walaupun bukan cita-citaku menjadi pegawai negeri. Suasana kerja di instansi pemerintah kurang cocok denganku. Setahun aku disana, aku tidak betah. Tidak ada achievement yang memadai. Aku merasa tidak berkembang, jangan-jangan malah mundur.

Alhamdulillah, pada titik putus asaku, suamiku mendapat kerja di luar Jakarta. Setidaknya aku punya excuse kepada diriku untuk keluar dari kantorku itu. Suamiku sebenarnya juga tidak suka aku bekerja, tapi karena aku bekerja di instansi pemerintah, maka dia masih mau memberi ijin. Di kota kecil tempat suamiku bekerja, aku hanya di rumah saja. Anak belum punya pula. Sehari-hari hanya jalan-jalan keliling kota. Seperti orang tak berguna saja. Ah, entah apa yang ada di otakku saat itu. Pokoknya benar-benar masa yang paling tidak beres dalam hidupku.

Untungnya, suamiku menerimaku apa adanya. Beberapa bulan kemudian suamiku pindah lagi ke Jakarta. Gairahku untuk bekerja mulai tumbuh lagi. Alhamdulillah pula, ada saja pekerjaan kecil freelance untuk aku kerjakan. Bukan permanent job, bukan kerja di oil company seperti yang kuidamkan dahulu, dan juga bukan pekerjaan yang sesuai bidangku, tapi lumayan buat mengisi waktu. Aku sering pulang lebih lambat dari suamiku. Aku rajin sekali bekerja, padahal duitnya tak seberapa. Bagiku, hidup hanya sekedar membunuh waktu, menunggu ajalku. Kalau aku terlalu sering tanpa kegiatan, maka penantian akan terasa menyesakkan dada.

Suamiku mulai mengeluh karena aku jarang di rumah. Apalagi aku sempat pula keguguran karena kecapekan. Akhirnya ijin bekerjaku dicabut. 3 bulan setelah keguguran aku hamil lagi. Dan sejak saat itu aku total berdiam di rumah. Keluar rumah sendiripun tidak pernah. Suamiku tidak mau aku keguguran lagi. Begitulah aku menjalani hari-hariku sebagai perempuan biasa. Tuhan telah mengatur segalanya. Alhamdulillah, ketika anakku yang pertama harus menjalani operasi dan kemoterapi, aku bisa mendampinginya 24 jam, karena aku tidak bekerja.

2,5 tahun setelah kelahiran anakku yang pertama, aku dipercaya Tuhan untuk memegang amanah kedua. Hidupku makin berkutat pada anak, dapur, dan rumah saja. Tapi aku menikmatinya. Kadang pernah terlintas, betapa tak bergunanya diriku karena tidak bisa menghasilkan uang. Tapi pikiran itu segera sirna ketika aku berpikir sebaliknya. Memangnya arti ‘berguna’ itu harus selalu menghasilkan uang?. Memberi ASI pada anakku, menemaninya bermainpun juga melakukan sesuatu yang berguna. Setelah kelahiran anakku yang kedua, sempat muncul keinginan yang kuat untuk bekerja kembali. Tapi rasa minderku masih belum hilang. Perusahaan mana yang akan menerima ibu-ibu yang sudah beranak pinak dan hanya punya sedikit pengalaman kerja seperti aku ini.

Sebenarnya kakakku sering menawari aku beberapa pekerjaan freelance, tapi suamiku tidak pernah setuju. Katanya, kalau mau bekerja, sekalian saja cari di oil company, agar uang yang dihasilkan bisa menutupi kerugian immaterial yang mesti ditanggung olehnya dan anak-anakku.

Itulah masalahnya. Mana mungkin aku bawa-bawa ijazah yang sudah kadaluarsa, tanpa pengalaman kerja di bidang perminyakan, tanpa pernah ikut kursus geofisika ataupun geologi, dengan IP seadanya pula untuk melamar ke oil company. Mission Impossible itu namanya. Tidak ada satupun software geofisika yang aku kuasai lagi. Kadang aku juga bingung, aku kuliah dulu ngapain aja ya. Hanya menghabiskan subsidi negara dengan sia-sia saja. Astaghfirullah.

Standard pekerjaan yang boleh aku terima yang dibuat suamiku semakin membuatku merasa bodoh dan tidak berguna. Sempat terpikir untuk berwirausaha. Tapi aku tak tahu darimana memulainya. Hingga akhirnya aku mulai berkenalan dengan dunia maya. Wawasanku mulai terbuka. Baca artikel sana sini kemudian aku tanggapi dengan membuat tulisan. Atau kadang justru artikel itu yang menginspirasi. Kemudian aku mulai membuat blog. Pada blog yang pertama jarang orang meninggalkan komentar, tapi setelah aku pindah ke blogdetik, mulai ada yang memberikan komentar. Ternyata, tulisanku ada yang baca juga.

Setelah itu aku mulai membuat account FB sendiri. Tadinya aku nebeng suamiku, karena aku malu bertukar kabar dengan teman-temanku. Rasa percaya diriku benar-benar di titik nol. Aku merasa menjadi orang yang gagal dan tidak berguna. Ketika aku meng-add seseorang yang datang dari masa laluku, aku sama sekali tidak berniat untuk berkomunikasi intensif dengannya. Aku hanya ingin tahu kabarnya saja. Tapi mungkin semua sudah diatur olehNya. Ketika dia tahu aku tidak bekerja, dia mulai menyulut api dalam diriku yang sudah lama padam. Dia bilang, “Ah, kamu tidak bodoh kok, kenapa tidak bekerja?” (Kesannya kalau bodoh tidak bekerja, kalau tidak bodoh bekerja, tapi sebenarnya maksud temanku tidak begitu). Aku agak terkesima juga disebut ‘tidak bodoh’. Benarkah aku tidak sebodoh yang kupikir selama ini? Mengingat, aku memang tidak pernah beres dengan nilai kuliah.

Rasa percaya diriku mulai bertunas kembali. Seiring waktu, seiring anak-anakku yang juga sudah lebih mandiri dan tidak butuh aku lagi, akupun mulai berniat untuk bekerja kembali. Maka proposal ijin kerjapun aku ajukan kembali kepada suamiku. Yah, masih seperti dulu, syaratnya harus oil company atau tidak sama sekali. Dia bilang, “Apalagi yang akan kamu cari di luar sana. Apa kamu pikir dunia disana itu nyaman, enak, dan menyenangkan. Tidak. Kamu pikir kamu bisa sekuat apa untuk bisa survive di luar sana. Sudahlah, duduk manis saja dirumah. Kalau bosan, jalan-jalan ke mall. Habiskan saja uangku yang tidak seberapa itu.”

Ah, aku tahu suamiku mencintaiku dan ingin menjagaku. Dulu, memang aku pernah hampir menjadi korban pelecehan seksual ketika naik KRL Jakarta-Bogor yang penuh sesak. Bukan cuma sekali, tapi tiga kali. Padahal aku tidak pernah memakai baju ketat. Kerudungpun selalu aku ulurkan menutupi dadaku. Mungkin karena itu suamiku jadi sangat protektif kepadaku. Kadang aku merasa menyesal dilahirkan sebagai perempuan.

Tapi sayangnya aku terlanjur lahir dengan jiwa yang tidak sederhana. Aku pikir, kalau aku terlalu memanjakan diri, kapan aku belajar menjadi kuat. Kalau aku terus bersembunyi dan mendoktrin diri bahwa aku lemah, kapan aku menjadi berani. Sebenarnya, aku juga tidak tahu apa yang ingin aku cari diluar sana. Aku tidak tahu, aku sama sekali tidak tahu.

Kemarin akhirnya aku kembali meminta pekerjaan kepada kakakku. Bukan pekerjaan yang mewah yang bisa diberikan oleh kakakku, tapi aku setuju untuk memasukkan CV ku kesana. Dan suamiku masih dengan komentar yang sama, “It’s not a worthy job. You had better stay at home with our children”.

Berbarengan dengan rasa percaya diriku yang terus belajar tumbuh, serta kata-kata teman lamaku yang sering bilang bahwa aku tidak bodoh, aku bertekad untuk bekerja kembali. Mungkin aku memang sama sekali tidak expert di bidang geofisika/geologi, dan aku sungguh menyesal telah menyia-nyiakan 5 tahunku yang berharga di bangku kuliah, tapi setidaknya aku tidak bodoh-bodoh amat. Semoga. Serendah apapun pekerjaan yang akan aku terima nanti, tetap saja itu jauh lebih baik daripada aku hanya main game Mafia Wars saja di rumah. Lagipula, aku juga tidak ingin mengukur sesuatu dari uang yang dihasilkan. Suamiku cemberut, tapi aku lanjuuut. Mudah-mudahan aku tidak kebablasan, seperti dulu. Terima kasih, teman, tiga kata ajaibmu (kamu tidak bodoh) membuatku berani menjadi diri sendiri, dan berani menantang badai di luar rumahku yang nyaman ini.

posted in cerita | 2 Comments

  • Arsip

  • Kategori

  •  

  • Mei 2012
    S S R K J S M
    « Okt    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • Animasi