Hanya Perubahan Yang Tidak Berubah

2 Sep 2009

Mungkin, untuk sampai pada titik dimana aku begitu nyaman menjadi diriku sendiri seperti sekarang ini memang harus melalui beberapa tahap yang sulit. Seperti anak kecil yang belajar berjalan pasti pernah mengalami jatuh. Tanpa jatuh itu dia tak akan pernah berani melangkahkan kakinya. Tanpa jatuh dia tidak akan cukup percaya diri untuk melepas pegangan tangannya ketika berjalan.

Ketika aku lulus kuliah, aku sangat tidak percaya diri dengan kemampuanku mendapatkan pekerjaan. Minder abisss deh… Dan memang kenyataannya beberapa oil company yang aku lamar menolakku pada tahap wawancara, yang biasanya dilakukan setelah tahap psikotes. Akhirnya, ketika ada lowongan di instansi pemerintah, aku ambil saja, walaupun bukan cita-citaku menjadi pegawai negeri. Suasana kerja di instansi pemerintah kurang cocok denganku. Setahun aku disana, aku tidak betah. Tidak ada achievement yang memadai. Aku merasa tidak berkembang, jangan-jangan malah mundur.

Alhamdulillah, pada titik putus asaku, suamiku mendapat kerja di luar Jakarta. Setidaknya aku punya excuse kepada diriku untuk keluar dari kantorku itu. Suamiku sebenarnya juga tidak suka aku bekerja, tapi karena aku bekerja di instansi pemerintah, maka dia masih mau memberi ijin. Di kota kecil tempat suamiku bekerja, aku hanya di rumah saja. Anak belum punya pula. Sehari-hari hanya jalan-jalan keliling kota. Seperti orang tak berguna saja. Ah, entah apa yang ada di otakku saat itu. Pokoknya benar-benar masa yang paling tidak beres dalam hidupku.

Untungnya, suamiku menerimaku apa adanya. Beberapa bulan kemudian suamiku pindah lagi ke Jakarta. Gairahku untuk bekerja mulai tumbuh lagi. Alhamdulillah pula, ada saja pekerjaan kecil freelance untuk aku kerjakan. Bukan permanent job, bukan kerja di oil company seperti yang kuidamkan dahulu, dan juga bukan pekerjaan yang sesuai bidangku, tapi lumayan buat mengisi waktu. Aku sering pulang lebih lambat dari suamiku. Aku rajin sekali bekerja, padahal duitnya tak seberapa. Bagiku, hidup hanya sekedar membunuh waktu, menunggu ajalku. Kalau aku terlalu sering tanpa kegiatan, maka penantian akan terasa menyesakkan dada.

Suamiku mulai mengeluh karena aku jarang di rumah. Apalagi aku sempat pula keguguran karena kecapekan. Akhirnya ijin bekerjaku dicabut. 3 bulan setelah keguguran aku hamil lagi. Dan sejak saat itu aku total berdiam di rumah. Keluar rumah sendiripun tidak pernah. Suamiku tidak mau aku keguguran lagi. Begitulah aku menjalani hari-hariku sebagai perempuan biasa. Tuhan telah mengatur segalanya. Alhamdulillah, ketika anakku yang pertama harus menjalani operasi dan kemoterapi, aku bisa mendampinginya 24 jam, karena aku tidak bekerja.

2,5 tahun setelah kelahiran anakku yang pertama, aku dipercaya Tuhan untuk memegang amanah kedua. Hidupku makin berkutat pada anak, dapur, dan rumah saja. Tapi aku menikmatinya. Kadang pernah terlintas, betapa tak bergunanya diriku karena tidak bisa menghasilkan uang. Tapi pikiran itu segera sirna ketika aku berpikir sebaliknya. Memangnya arti berguna itu harus selalu menghasilkan uang?. Memberi ASI pada anakku, menemaninya bermainpun juga melakukan sesuatu yang berguna. Setelah kelahiran anakku yang kedua, sempat muncul keinginan yang kuat untuk bekerja kembali. Tapi rasa minderku masih belum hilang. Perusahaan mana yang akan menerima ibu-ibu yang sudah beranak pinak dan hanya punya sedikit pengalaman kerja seperti aku ini.

Sebenarnya kakakku sering menawari aku beberapa pekerjaan freelance, tapi suamiku tidak pernah setuju. Katanya, kalau mau bekerja, sekalian saja cari di oil company, agar uang yang dihasilkan bisa menutupi kerugian immaterial yang mesti ditanggung olehnya dan anak-anakku.

Itulah masalahnya. Mana mungkin aku bawa-bawa ijazah yang sudah kadaluarsa, tanpa pengalaman kerja di bidang perminyakan, tanpa pernah ikut kursus geofisika ataupun geologi, dengan IP seadanya pula untuk melamar ke oil company. Mission Impossible itu namanya. Tidak ada satupun software geofisika yang aku kuasai lagi. Kadang aku juga bingung, aku kuliah dulu ngapain aja ya. Hanya menghabiskan subsidi negara dengan sia-sia saja. Astaghfirullah.

Standard pekerjaan yang boleh aku terima yang dibuat suamiku semakin membuatku merasa bodoh dan tidak berguna. Sempat terpikir untuk berwirausaha. Tapi aku tak tahu darimana memulainya. Hingga akhirnya aku mulai berkenalan dengan dunia maya. Wawasanku mulai terbuka. Baca artikel sana sini kemudian aku tanggapi dengan membuat tulisan. Atau kadang justru artikel itu yang menginspirasi. Kemudian aku mulai membuat blog. Pada blog yang pertama jarang orang meninggalkan komentar, tapi setelah aku pindah ke blogdetik, mulai ada yang memberikan komentar. Ternyata, tulisanku ada yang baca juga.

Setelah itu aku mulai membuat account FB sendiri. Tadinya aku nebeng suamiku, karena aku malu bertukar kabar dengan teman-temanku. Rasa percaya diriku benar-benar di titik nol. Aku merasa menjadi orang yang gagal dan tidak berguna. Ketika aku meng-add seseorang yang datang dari masa laluku, aku sama sekali tidak berniat untuk berkomunikasi intensif dengannya. Aku hanya ingin tahu kabarnya saja. Tapi mungkin semua sudah diatur olehNya. Ketika dia tahu aku tidak bekerja, dia mulai menyulut api dalam diriku yang sudah lama padam. Dia bilang, Ah, kamu tidak bodoh kok, kenapa tidak bekerja? (Kesannya kalau bodoh tidak bekerja, kalau tidak bodoh bekerja, tapi sebenarnya maksud temanku tidak begitu). Aku agak terkesima juga disebut tidak bodoh. Benarkah aku tidak sebodoh yang kupikir selama ini? Mengingat, aku memang tidak pernah beres dengan nilai kuliah.

Rasa percaya diriku mulai bertunas kembali. Seiring waktu, seiring anak-anakku yang juga sudah lebih mandiri dan tidak butuh aku lagi, akupun mulai berniat untuk bekerja kembali. Maka proposal ijin kerjapun aku ajukan kembali kepada suamiku. Yah, masih seperti dulu, syaratnya harus oil company atau tidak sama sekali. Dia bilang, Apalagi yang akan kamu cari di luar sana. Apa kamu pikir dunia disana itu nyaman, enak, dan menyenangkan. Tidak. Kamu pikir kamu bisa sekuat apa untuk bisa survive di luar sana. Sudahlah, duduk manis saja dirumah. Kalau bosan, jalan-jalan ke mall. Habiskan saja uangku yang tidak seberapa itu.

Ah, aku tahu suamiku mencintaiku dan ingin menjagaku. Dulu, memang aku pernah hampir menjadi korban pelecehan seksual ketika naik KRL Jakarta-Bogor yang penuh sesak. Bukan cuma sekali, tapi tiga kali. Padahal aku tidak pernah memakai baju ketat. Kerudungpun selalu aku ulurkan menutupi dadaku. Mungkin karena itu suamiku jadi sangat protektif kepadaku. Kadang aku merasa menyesal dilahirkan sebagai perempuan.

Tapi sayangnya aku terlanjur lahir dengan jiwa yang tidak sederhana. Aku pikir, kalau aku terlalu memanjakan diri, kapan aku belajar menjadi kuat. Kalau aku terus bersembunyi dan mendoktrin diri bahwa aku lemah, kapan aku menjadi berani. Sebenarnya, aku juga tidak tahu apa yang ingin aku cari diluar sana. Aku tidak tahu, aku sama sekali tidak tahu.

Kemarin akhirnya aku kembali meminta pekerjaan kepada kakakku. Bukan pekerjaan yang mewah yang bisa diberikan oleh kakakku, tapi aku setuju untuk memasukkan CV ku kesana. Dan suamiku masih dengan komentar yang sama, Its not a worthy job. You had better stay at home with our children.

Berbarengan dengan rasa percaya diriku yang terus belajar tumbuh, serta kata-kata teman lamaku yang sering bilang bahwa aku tidak bodoh, aku bertekad untuk bekerja kembali. Mungkin aku memang sama sekali tidak expert di bidang geofisika/geologi, dan aku sungguh menyesal telah menyia-nyiakan 5 tahunku yang berharga di bangku kuliah, tapi setidaknya aku tidak bodoh-bodoh amat. Semoga. Serendah apapun pekerjaan yang akan aku terima nanti, tetap saja itu jauh lebih baik daripada aku hanya main game Mafia Wars saja di rumah. Lagipula, aku juga tidak ingin mengukur sesuatu dari uang yang dihasilkan. Suamiku cemberut, tapi aku lanjuuut. Mudah-mudahan aku tidak kebablasan, seperti dulu. Terima kasih, teman, tiga kata ajaibmu (kamu tidak bodoh) membuatku berani menjadi diri sendiri, dan berani menantang badai di luar rumahku yang nyaman ini.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post