Malam

7 Sep 2009

Malam selalu membawa kegelisahan. Ketika aktivitas telah usai ditelan matahari, maka malam menjadi sangat panjang dan menakutkan. Kegelapan yang menyertainya, seperti gulitanya hati menahan sepi. Malam selalu menyiksaku, tatkala mataku tak bisa berkompromi terhadap waktu.

Selalu terjaga di malam hari bukan hal yang menyenangkan. Kadang aku menyelesaikannya dengan obat tidur yang kubeli murah di apotek dekat rumahku. Dan menenggaknya beberapa butir sekaligus bilamana perlu. Mungkin ini salah satu bawaan ibuku. Dulu, sewaktu aku masih tinggal bersama ibuku, ibuku sering sekali terbangun di malam hari. Kemudian beliau akan membangunkan aku juga untuk mengobrol karena beliau tidak tahan sendiri. Begitulah semua kebiasaan itu dimulai.

Malam ini, aku teringat akan kisah hidup saudara jauhku. Beberapa bulan menjelang pernikahannya, datanglah seorang lelaki lain dalam hidupnya. Karena ingin membuktikan rasa setianya kepada pacarnya, dia tetap memilih menikah dengan pacarnya. Tuntutan hidup mengharuskan mereka tinggal berjauhan. Hingga suatu malam, suaminya menemukannya sedang berdua dengan lelaki yang dulu menginginkannya. Walau tak punya bukti, tapi secara naluri suaminya sadar istrinya telah berselingkuh. Singkat cerita, karena ingin menjaga keutuhan rumah tangganya, maka diajaknyalah istrinya pindah ke kota tempat dia bekerja. Istrinya setuju.

Tetapi, rupanya ganjalan peristiwa malam itu tak dapat hilang begitu saja. Komunikasi serasa berjarak. Akhirnya mereka bercerai dengan alasan tak cocok lagi. Ketika itu saudara jauhku sedang hamil tua. Suaminya tak peduli lagi dengannya. Saudaraku mengurus semua tetek bengek melahirkan dan merawat bayi sendiri saja. Dan dia bisa. Ketika anaknya lahir, suaminya tak menengoknya. Tapi ternyata firasat suaminya adalah benar adanya. Anak itu bukan anaknya. Anak itu anak lelaki selingkuhannya.

Mungkin, karena ingin mendapat pengakuan soal anaknya dari lelaki selingkuhannya, saudaraku menghubungi kembali lelaki itu. Gayung bersambut. Lelaki yang telah menghamilinya bersedia menikahinya. Sejauh ini aku tak keberatan dengan jalan yang dipilih saudaraku itu. Tapi, ternyata lelaki kedua itu telah memiliki istri pertama. Ketika mereka melakukan perselingkuhan itu, keduanya berstatus married. Masih tak masalah bagiku, itu urusan mereka dengan Tuhannya.

Yang sampai sekarang aku belum bisa aku mengerti adalah, kenapa saudaraku itu mau jadi istri kedua. Demi cinta? Ha..ha..ha..makanan macam apa itu cinta sampai segitunya mau dijadikan istri kedua. Harta bukan menjadi persoalan bagi saudaraku itu, karena penghasilannya lebih besar dari suami keduanya. Atau saudaraku takut mengasuh anaknya sendirian. Kenapa harus takut? Kalau memang dia takut, kenapa harus menikah dengan lelaki yang sama yang telah menghamilinya? Padahal dia bisa mencari lelaki lain yang tak beristri? Ah, aku tak mengerti…benar-benar tak mengerti.

Bagiku yang awam ilmu agama, poligami sama sekali tak masuk di logikaku. Rasanya, kalau mendengar ada perempuan di poligami, sisi keperempuananku tersinggung dan marah. Kami, perempuan, tidak lemah-lemah amat sebenarnya, asal jangan dicuci otak kami lantas dimasukkan ide bahwa kami adalah lemah dan butuh laki-laki sebagai pelindung. Kami bisa mengasuh dan membesarkan anak sendiri. Contoh konkritnya adalah ibuku. Beliau membiayai dan merawat anaknya sendiri setelah ayahku meninggal pada saat kakak tertuaku baru berusia 15 tahun, dan bungsunya berumur 7 tahun.

Bila alasannya adalah cinta…aduh…tolong ambilkan ember dong, pengen muntah nih!! (maaf). Cinta kok tuntutannya banyak begitu, nafsu saja kali itu. Jangan mengatasnamakan cinta lah. Kasihan para perempuan.

Kehidupan saudaraku setelah menjadi istri kedua juga tidak banyak perubahan seperti ketika dia masih menjadi single parent. Saudaraku memang sempat menjadi single parent selama 2 tahun sebelum akhirnya menikah. Dia tetap bekerja untuk mencukupi kebutuhan dia dan anaknya. Dia beli rumah dari tabungannya sendiri, bukan dari tabungan suaminya. Enak kali tu cowok, terima beres aja. Bukannya, aku ingin mengukur seseorang dari hartanya, cuma rasanya ga rela saja bila ada perempuan yang dimanfaatkan. Bingung bin linglung dengan pilihan hidup saudaraku.

Kupikir tidak adil, kalau laki-laki boleh beristri lebih dari satu sedangkan perempuan tidak. Lagipula denger-denger poligami sebenarnya tidak didukung oleh syariah lho… Jika hati masih mungkin berbelah dua, tiga, atau empat, tapi komitmen, janji, dan keadilan? Tidak ada manusia yang benar-benar adil di dunia ini. Ini namanya pembodohan perempuan. Padahal, kami perempuan, secara kemampuan juga ada yang bisa bersuami lebih dari satu. Aku juga mau, walau aku tak mampu (ga ada yang mau maksudnya…hehe).

Aku juga sebenarnya sangat kecewa ketika Aa Gym menikah lagi. Demi apapun itu, aku sama sekali tidak sepakat. Bagiku, poligami adalah bencana keluarga yang lebih buruk dari perceraian.

Ya sudah, sekian dulu marah-marahnya. Tidak usah dihiraukan celotehanku. Seperti kata Aa Gym: tak usah peduli apa kata orang, yang penting kita selalu berusaha memperbaiki diri. Untuk yang ini sepakat deh Aa….

*if you tolarate this, your children will be next…*


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post