Kapitalisme???

13 Sep 2009

Beberapa hari yang lalu, keluarga besar suamiku mengadakan acara buka bersama di sebuah restoran di BSD. Pukul 5 sore kami sudah tiba di lokasi, padahal bedug maghrib pukul 17.50 an. Sekedar antisipasi, agar tidak terlantar karena tidak mendapat tempat. Restoran ini cukup besar, dengan karyawan yang banyak pula.

Setelah acara pesan memesan makanan selesai, tak berapa lama adzan berkumandang. Tajil telah disajikan diatas meja para tamu sebelum waktu adzan tiba. Makanan utama baru diturunkan setelah terdengar adzan. Yang membuat saya heran, begitu tiba saat adzan, para pelayannya malah sibuk sekali melayani pesanan para tamu. Kapan mereka berbukanya ya? Dengan asumsi mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim, aku yakin sebagian besar pelayan restoran tersebut berpuasa. Tapi sepertinya mereka hanya sempat meneguk air putih saja untuk membatalkan puasanya.

Pengunjung restoran sedang mencapai puncaknya pada jam-jam berbuka. Ada yang menambah pesanan, ada yang mau bayar, dan ada juga yang baru datang. Para pelayan masih terus berlalu lalang hingga jam menunjukkan pukul 7 malam. Sepanjang pengamatanku -mudah-mudahan tidak terlewat- belum terlihat para pelayan itu menyantap makanan padat hingga adzan Isya diserukan.

Mungkin memang begitulah nasib buruh. Harus tunduk pada aturan pemilik modal, apapun taruhannya. Apalah artinya menunda lapar sejam atau dua jam lebih lama asalkan anak istri di rumah tidak menunda lapar sampai seminggu lamanya. Aku tak tahu bagaimana aturan ekonomi itu seharusnya diciptakan. Karena aku belum sempat berkenalan dengan Abah Kapitalisme dan Om Sosialisme. Hanya saja, sepertinya aku melihat ada pihak yang terdzolimi dalam hubungan kerja buruh-majikan.

Kabarnya, harga jual sebuah barang tergantung pada harga bahan dasar dan harga tenaga kerja. Harga bahan dasar masih memiliki batas minimum yang pasti untuk ditekan, sedangkan harga tenaga kerja memiliki batas minimum yang fleksibel dan bahkan bisa ditekan dengan sangat ekstrim, dibawah nilai KFM (Kebutuhan Fisik Minimum) yang ditetapkan oleh pemerintah. Harga tenaga kerja sangat tergantung pada kekompakan para pencari kerja.

Pemilik modal lebih suka menekan harga tenaga kerja seminimum mungkin demi keuntungan semaksimal mungkin. Kemarin ketika ada tawaran pekerjaan kepadaku yang gajinya tidak sesuai tanggungjawabnya, suamiku memintaku menolaknya. Bukan masalah uangnya, tapi masalah keadilan. Karena pengalaman kami sewaktu baru lulus dan menjadi job seeker, kami sangat benci kepada Geologist/Geophysicist yang banting harga. Merusak harga pasar, kami menyebutnya. Tapi bagaimana bila pekerjaan itu hanya dijadikan batu loncatan? Karena logikanya, orang pasti tidak mau digaji kecil dengan tanggungjawab besar. Dan perusahaan yang menggaji dibawah standard pun pasti sudah maklum bahwa resiko kehilangan karyawan sangat besar dengan tetap pada pendirian. Kalau begitu, sebenarnya sah-sah saja dong menerima pekerjaan dengan gaji dibawah kelaziman?

Tah, lieur lagi urang. Mending bikin puisi asal-asalan, daripada kesal sama pemilik modal.

*maaf diedit, soalnya kemarin nulisnya pas kena kutukan PMS, jadi ga terkontrol*


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post