Di Ujung Ramadhan

15 Sep 2009

Menahan gejolak yang kian melonjak. Masa depan yang buram dan masa lalu yang suram. Kemarau yang panjang. Betapa aku merindukan hujan. Karena hujan selalu dapat menyembunyikan tangisku. Disini tak ada apa-apa. Disana juga kosong. Kusut sekali skenarioMu. Aku tak mengerti.

Teman baikku bertanya, kenapa aku pandai sekali tertawa. Ah, dia tak pernah tahu, aku pandai tertawa sepandai aku berurai airmata, pada ruang terkunci di sudut hati. Pathetic act for worthless curse. Biarin aja.

Just enjoy the thrill of uncertainty, I still remember those words. Tidak karena suatu apa, hanya ingin memungut setiap hikmah yang tersisa, seandainya itu memang ada.

Lantas??? Aku tak ingin meratap. Sekedar menghabiskan sisa waktu di malam kelam tanpa bintang. Sudah kukatakan berulang kali pada diri ini, Sudahlah…!

Kembali aku menengadah, mencoba menatapMu di puncak kuasaMu. Kau tak ada disana. Dimana…dimana…Kau bersembunyi. Sesungguhnya aku juga ingin bersembunyi. Tapi aku tak bisa, aku tak kuasa.

Kenapa kau buat aku jatuh, padahal kau tahu kau tak kan mampu tuk menangkapku? Tak lebih berharga dari dendam di masa lalu. Dari rasa penasaran yang mungkin terus mengejarmu. Bukan keputusan yang bijak, kataku. Ah, aku tak hendak bicara cinta, aku hanya ingin mabuk saja.

The moon take another spell on me. Dan aku membeku. Waktu berlalu, tanpa kutahu. Menggilas keyakinanku. Berharap segera berubah menjadi kupu-kupu. Agar bisa menghinggapi bunga di taman. Bercanda dengan serpihan serbuk sari, menyampaikannya pada putik yang setia menunggu. Dengan sebersit asa, aku bisa menjadi malaikat setelahnya.

Too much love will never kill me. Karena aku masih ingin tegak berdiri. Menantang badai. Life is just a stupid game. If its too easy, then well get bored. Demi kebodohan-kebodohan berikutnya, aku akan tetap ada disini.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post