Kisah Seekor Lebah

23 Sep 2009

Di sebuah hutan yang rindang, hiduplah seekor lebah pekerja kecil bersama koloninya. Lebah kecil yang istimewa. Lebih kecil yang berusaha mencari sesuatu yang berbeda dari rutinitas yang dilakukan teman-temannya. Lebah kecil itu sedang jenuh dengan kegiatan kesehariannya, yaitu mencari madu dan merawat larva.

Suatu hari yang cerah, lebah tersebut terbang diluar wilayah kerjanya. Bunga-bunga di padang rumput yang biasa dia hisap madunya, tidak lagi menggairahkannya. Dia terbang menjauhi teman-temannya yang sedang giat bekerja. Hingga dia tiba di sebuah tebing yang tinggi dan curam. Rasa penasaran menggeliat dalam dirinya. Dia ingin tahu, ada apakah di balik tebing itu. Dia tahu, tak mudah untuk menyeberangi tebing curam tersebut. Badannya yang kecil sangat berpotensi terhempas oleh kencangnya angin di ketinggian tebing. But, passion is passion. Tak terbendung lagi, lebah itu nekad meyeberangi tebing tinggi.

Seperti yang sudah diprediksinya, angin gunung yang kejam membawanya pada sakaratul maut. Untungnya, Dewa Kehidupan belum berkenan menerima kehadirannya di istana akhiratnya. Lebah itu berhasil bertahan hidup. Bersama pelangi yang menemani, lebah itu membuka matanya kembali. Dia telah tiba dibalik tebing. Dan begitu menyaksikan apa yang ditemukanya di balik tebing itu, lebah itu rasanya ingin menutup mata kembali. Ternyata, SEMUA SAMA SAJA.

Hutan kecil yang rindang, dan padang rumput yang penuh bunga-bunga berwarna-warni, sama persis seperti yang dimilikinya dahulu. Kemudian dia berpikir, pada akhirnya, kemanapun kita pergi, yang kita temui hanyalah diri sendiri. Diri yang selalu mencari sesuatu yang baru untuk kemudian menjadi bosan lagi. Tapi kita tak dapat kembali, karena kita telah terlanjur tahu. Seandainya lebah kecil itu tak pernah tahu ada tebing yang menantang di sebelah sarangnya yang nyaman, maka dia tak akan pernah sampai di balik tebing tersebut. Keterlanjuran akan pengetahuan (yang mungkin sebenarnya juga tak dia harapkan) telah membawa lebah petualang berada di tempat sekarang.

Diujung cerita, lebah tersebut menjalani hidup yang sama sekali tidak berbeda dengan hidupnya sebelumnya. Mencari madu dan menjaga larva. Tapi setidaknya, lebah petualang bisa sedikit merasa lega. Rasa penasarannya telah tertuntaskan. Hingga suatu saat dia akan tiba pada rasa penasaran berikutnya, yang kembali menuntut untuk dituntaskannya.

Aku merasa ada ironi pada kehidupan seekor lebah. Lebah, binatang berkoloni yang membagi sesamanya berdasarkan garis nasibnya, tanpa bisa mengusahakannya. Ada yang tercipta menjadi ratu, yang kerjanya hanya kawin dan bertelur. Ada yang bertugas sebagai pekerja, mencari madu, membuat sarang, dan menjadi pejuang bila musuh datang. Bagaimana bila ada lebah yang tidak puas dengan takdir penciptaannya. Emang gue pikirin, mungkin begitu kata Sang Pemilik Alam. Puas dan tidak puas itu bukan akibat dari sesuatu, tapi situasi yang bisa diciptakan. Dan Tuhanpun memilih berlepas tangan. God must be crazy when leaves us alone, but God is crazy, indeed.

Apa artinya kehidupan bagi seekor lebah kecil di jagad yang tak berbatas ini. Bila kematian harus selalu dibayar dengan cukup satu saja serangan kepada pihak lawan. Sekali menyengat setelah itu mati. Bertahan hidup rasanya tak ada artinya lagi. Menyengat untuk melawan, tapi toh akan mati juga karena nyawa lebah ada di pantatnya, di dalam sengatnya. Is it me on that little bee? Merasa ada yang tidak adil? Ah sudahlah, buat apa menggugat lagi, kalau akhirnya sama saja: mati.

Dari sarangnya kita bisa memperoleh madu, yang konon kabarnya, berkhasiat menyembuhkan segala macam penyakit manusia. Sosok pahlawan yang tragis. Hidup hanya demi kepentingan manusia, yang dikenalnya pun mungkin tidak. Dielu-elukan untuk kemudian tak terselamatkan. Kalau hidup memang hanya mengejar nilai manfaat, bahkan setanpun diciptakan untuk sebuah manfaat. Then, whats life for?

Dari hati ke hati, dari kondisi ke kondisi aku jelajahi. Yang aku temui hanya diri ini. Tanpa ada orang yang sanggup mengerti. Berkutat dengan hal yang tak jauh berbeda. Mencoba saling memahami, tapi seringkali terdampar pada rasa benci. Tapi aku tidak menyesali penjelajahan ini. Karena kini, hidup takkan sama lagi, walau itu hanya terasa di hati.

I try to keep dreaming (of you) even its getting uglier and hurt. Tapi, Tuhan saja tidak bertanggung jawab terhadap apa yang dipikirkan dan dirasakan makhlukNya, apalagi kita.

Selamat Hari Raya idul Fitri, Minal Aidzin wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Bathin


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post