Thats Why…Thats Why….

26 Sep 2009

Jatuh cinta itu biasa. Berkomitmen terhadap cinta itu luar biasa. Mungkin bukan perkara cinta yang membawaku pada pernikahanku. Karena ketika itu aku sudah tidak percaya cinta itu ada. Kebutuhan psikologisku yang lebih banyak mendorongku berkomitmen dengan suamiku.

Aku adalah jenis makhluk Tuhan yang sangat labil. Aku punya range perasaan yang sangat lebar. Detik pertama aku tertawa terbahak-bahak, sedangkan detik berikutnya aku bisa menangis meraung-raung. Selain itu aku juga tergolong setan yang paling kejam, perusuh yang tak kenal ampun, dan penjahat moral yang paling parah. Tidak ada seorang lelakipun yang betah menyayangiku. Karena tanpa kusadari, aku telah melukai mereka. Apa aku harus menyesal karena kondisiku ini? Tanya saja pada Tuhan tentang itu.

Dan pada suatu masa, hadirlah laki-laki yang kini menjadi suamiku. Dia tidak mengerti siapa sebenarnya aku. Yang dia lihat hanyalah seorang mahasiswa setingkat dibawahnya, yang agak malas kuliah sehingga pelajarannya keteteran. Sederhana dan tidak rumit. Tapi justru cara pandangnya yang gampang itu yang membuat dia adalah satu-satunya pria yang betah berjalan denganku.

Suamiku tidak pernah mengerti betapa banyak kejahatan-kejahatan yang telah aku lakukan, karena dalam pandangan dia, kejahatan berarti melanggar aturan, sedangkan aku secara lahiriah memang tidak pernah melanggar aturan. Hanya norma saja yang sering aku permainkan. Pelanggaran-pelanggaran yang aku lakukan tidak bisa masuk ke dalam logika tekniknya, sehingga dia berpikir aku ini sesuci malaikat.

Suamiku tidak pernah terluka oleh kelakukanku. Aku juga heran sebenarnya, kok bisa ya, sementara diluar sana teman-temanku banyak yang mengeluhkan sikapku. Kadang aku merasa suamiku adalah semacam robot yang hati dan rasanya telah terkontrol penuh oleh processor diotaknya. Itulah yang membuat hubungan kami langgeng. Ketika aku tidak bisa mengontrol diri dan pikiranku, aku seringkali bertindak menyakiti diri sendiri atau orang lain. Orang normal mungkin akan terganggu dengan ketidakmampuanku mengontrol diri atau pikiran-pikiran jahatku. Tapi suamiku selalu berkata,kejahatan adalah perbuatan, bukan pikiran. Bahkan kata-kata yang paling pedas yang sering aku lontarkan tanpa kendali pun tidak pernah melukainya. Karena bagi dia kata-kata buruk adalah kata-kata yang berisi sumpah serapah, kebun binatang, dan kata-kata jorok yang dilarang oleh agama. Sinisme, dalam kamus dia, tidak termasuk kata-kata buruk.

Kadang aku merasa terganggu karena merasa keinginanku tak terpahami oleh dia. Tapi justru ketidakpahamannya itulah yang banyak menyelamatkanku dari menyakiti diri sendiri dan orang lain. Aku juga banyak terbebas dari prasangka karena dia tidak pernah memperhitungkan hal-hal yang bersifat implisit.

Bisa jadi, apa yang kami harapkan dalam sebuah pernikahan adalah berbeda, walau aku yakin irisannya tetap ada. Bagiku, selama suamiku tidak menyimpang dari hak dan kewajibannya (menurut definisiku), aku akan selalu bisa terima. Karena sesungguhnya, keinginan manusia itu terlalu banyak untuk bisa dipenuhi oleh pasangannya. Selama kami masih bisa tertawa bersama, berarti kami masih baik-baik saja.

Diluar itu semua, memang hanya dia yang bisa bertahan bersamaku ketika itu dan hingga kini. Thats why..thats why…aku tetap disini, bergandengan tangan bersamanya, walau ada cedera didada, akibat masa lalu yang seharusnya kulupa…yang seharusnya kulupa…(sekali lagi ah) yang seharusnya kulupa.

He..he…he…jadi pengen ketawa mengingat gedebag gedebug-ku selama ini. Walaupun aku hobi tertawa, tapi kadang hidup itu terlalu lucu sehingga aku lupa tertawa.

Sudah, mulai sekarang aku mau menatap kedepan, berusaha tak menoleh ke belakang. Berusaha tidak bersentimentil dan berpuitis ria, karena aku bisa disangka sedang tebar pesona, atau sedang melakukan kenakalan-kenakalan tak beradab lainnya. Aku tidak mau bercengeng-cengeng lagi dengan cinta, aku juga tak mau lagi mengeluh tentang kehampaan hidup. Yang ingin kulakukan adalah, menjadi karyawan yang baik selama 1 sampai 2 tahun ini (ijin sudah setengah hati dikasih..,lumayan daripada tidak sama sekali), sembari membangun networking untuk mendukung sebuah kerajaan usaha yang aku impikan. Mari kita bangun jiwa enterpreneurship dalam diri kita, demi meningkatkan ekonomi bangsa.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post